Jumat, 08 Agustus 2008

Korelasi Bikini dengan Kemajuan Bangsa

Keputusannya memakai bikini mengundang kecaman dari dalam negeri tidak pernah disangka oleh Putri Raemawasti, peserta Miss Universe 2008 dari Indonesia. Akan tetapi ia tidak menunjukkan rasa bersalah, malah mengungkapkan bahwa keputusannya itu justru menjunjung martabat bangsa ini.
”Masalah two pieces itu tidak menjatuhkan martabat Indonesia, malah finalis-finalis lainnya bangga. Mereka bilang Indonesia sudah maju ya, sudah pakai bikini,” ujarnya dalam jumpa pers di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, Selasa (5/8).


Ini pernyataan aneh (khususnya bagi saya, dan mungkin sebahagian dari anda) yang keluar dari mulut seorang mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dan tentu saja pernyatan ini perlu dikritisi. Sebagai seorang mahasiswi tentu perlu (kalau tidak bisa dikatakan "wajib") memberikan argumen yang cukup untuk mengungkapkan korelasi antara menjunjung martabat bangsa dengan bikini.


Bagaimana bisa martabat bangsa bisa terangkat hanya dengan memakai bikini? Malah hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita tidak punya identitas sendiri yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain ikut-ikutan alias bangsa pengekor kepada sesuatu yang belum jelas kebenaran dan kebaikannya.


Lalu apa pula hubungan antara kemajuan suatu bangsa dengan memakai bikini?
Justru kalau kita cermati sejarah peradaban manusia, periode mereka yang memakai penutup tubuh seadanya berada pada zaman purbakala, dimana teknologi modern belum ditemukan. Bukankah ini justru bertentangan dengan pernyataannya?


Apakah karena ini bukan dalam lingkup akademis lalu pernyataannya tidak perlu disertai dengan argumen atau dalil? Apakah dia diutus ke kontes pamer aurat itu hanya untuk dinilai fisiknya semata? Bukankah sisi "brain" juga mendapat porsi tersendiri?


Rupanya tolok ukur (standar) baik atau buruk si peserta ini (liberal) berbeda dengan tolok ukur yang seharusnya kita miliki (Islam). Dari sini kita bisa menilai bahwa ajang kontes-kontesan semacam ini memang hanya dibuat untuk tujuan lain. Bukan untuk mencari wanita yang terbaik, melainkan yang tercantik atau yang laku di pasaran. Karena jelas yang terbaik itu tidak pernah lahir dari kontes pamer aurat semacam ini. Ukuran terbaik jelas tidak dinilai hanya dari tercantik fisik an sich sebagaiman kriteria Miss Universe dan miss-miss-an yang lain.


Bukan masalah one piece atau two picesnya yang seharusnya jadi perhatian kita bersama. Tetapi keikutsertaannya yang telah menjadikan wajah wanita Indonesia, yang notabene mayoritas muslimah, setali tiga uang dengan wanita-wanita yang tidak yakin akan adanya hari akhir. Padahal dahulu keikutsertaan dalam kontes-kontesan semacam ini sudah pernah dilarang pada pemerintahan Soeharto dengan tegas, sebagaimana tercermin dalam Keputusan Pemerintah yang dikeluarkan Mendikbud no 237/U/84 khususnya pasal 4 dan 6. Lalu ketika reformasi semua itu berubah.


Apa yang didapatkan Indonesia dari keikutsertaannya di ajang seperti ini? Entahlah. Yang pasti dengan begitu bangsa ini telah kehilangan identitasnya bahkan mungkin keberkahan dari Allah. Naudzubillahi min dzalik.

Tidak ada komentar: